orang alim, yang ridlo kepada nafsunya - al hikam
Apakah boleh dikatakan “ilmu-ilmunya” orang alim, yang
ridlo kepada
nafsunya, yang senantiasa dikuasai imperialis
nafsunya.
Dus,
orang punya ilmu yang masih dikuasi nafsu, otomatis tidak konsekwen kepada
ilmunya yang baik masalah ditinggalkan, yang jelek malah dilanggar diterjang.
Atau kalau pada suatu tempo berbuat kebaikan, tapi justru malah buat kedok
saja, Atau ada latar belakangnya. Karena ingin dihormat orang lain. Takut tidak
terhormat kalau tidak berbuat menjalankan kebaikan. Begitu juga meningalkan
barang jelek atau merugikan karena takut. Pokoknya selalu ada latar
belakangnya. Yaitu keuntungan pribadi atau nafu!.
Sekalipun
buta huruf tapi dia tidak dikuasai oleh nafsu, otomatis segala perbuatannya
senantiasa diridloi Alloh SWT. Otomatis senantiasa membawa manfaat bagi orang
lain. Sekalipun ujudnya itu tidak ada hubungan, tidak memanfaati kepada umat
dan masyarakat atau kepada lainnya. Sebaliknya, apabila orang dikuasai oleh
imperialis nafsu, sekalipun alimnya sundul langit, tapi justru ilmunya itu
disalahgunakan untuk keuntungan pribadi atau nafsunya! sama sekali tidak
membuahkan manfaat bagi umat dan masyarakat!.
Itu
tidak berarti kita harus menjadi orang bodoh orang buta huruf, jangan menjadl
orang alim orang pandai, tidak begitu! yang penting jangan sampai kita
menyalahgunakan ilmu kita. Disalahgunakan hanya untuk kepentingan pribadi kita
harus konsekwen. Konsekwen terhadap llmu yang kita miliki!.
Para hadirin-hadirot, ya mudah-mudahan pengajian pagi ini
sekali lagi diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW, membawa kemajuan yang
sebesar-besarnya bagi kemajuan perjuangan Fafirruu ilallohi wa Rosuulihi SAW.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar